20 Agt 2014

Masyarakat Pedagang Cendol



'Mengejutkan', demikian status yang diberikan tajuk rencana Kompas tanggal 1
Agustus 1997 atas penjualan saham bank Niaga yang menjadi pembicaraan banyak
kalangan itu. Demikian ramainya orang yang membicarakan soal ini, seolah-olah
timbul kesan bahwa ini telah menjadi isu nasional. Melebar jauh dari sekadar isu
tentang sebuah keluarga pengusaha.


Sebagai konsultan, saya sependapat dengan mereka yang mengemukakan bahwa
penjualan saham bank Niaga oleh keluarga Tahija, membawa nuansa persoalan
yang lain dibandingkan penjualan saham perusahaan pada umumnya. Sebabnya,
selain bank Niaga terkenal sebagai bank sehat dengan kinerja yang tidak jelek,
keluarga Tahija adalah salah satu diantara sangat sedikit pengusaha warisan orde
lama yang masih berkibar sampai sekarang.

Dari segi manajemen, kejadian ini membawa preseden yang tidak terlalu
menggembirakan. Mungkin terlalu berlebihan menyebut kasus ini sebagai cermin
lemahnya manajemen pengusaha melayu. Namun, bila kasus ini diakumulasikan
dengan kasus sejenis seperti pengusaha banteng yang bayangannya saja sudah tak
kelihatan, teramat langkanya perusahaan melayu yang sampai di generasi kedua ,
masih banyaknya jumlah perusahaan yang sedikit-sedikit minta bantuan pemerintah,
tidak bisa dihindari kalau ada sejumlah pihak yang meragukan kompetensi
manajemen kaum melayu.

Karena keterbatasan data dan informasi, saya tidak berani membenarkan sekaligus
menyalahkan sinyalemen tentang lemahnya manajemen kaum melayu tadi. Namun,
pengalaman saya berinteraksi secara dekat dengan sejumlah perusahaan keluarga
menunjukkan bahwa tidak sedikit pengusaha yang berhasil di bisnis, namun tidak
terlalu berhasil di keluarga. Ini membawa konsekwensi yang tidak kecil terhadap
kelangsungan hidup perusahaan kemudian. Begitu memasuki generasi kedua,
perusahaan terlalu sibuk dengan konflik-konflik internal di puncak. Bahkan, ada yang
sengaja memperlakukan perusahaan yang ditinggalkan generasi pertama sebagai
sapi perah. Masih untung kalau sapi tadi diberi makan. Ada yang memerah sapi
tanpa memberi makan sedikitpun. Sebagai hasilnya, kalau kita kelangkaan
perusahaan yang bisa sampai ke generasi kedua dan seterusnya, saya tidak terlalu
heran.

Disamping itu, lokasi kita secara geografis yang terletak di pusat lalu lintas
perdagangan dunia, membuat sejarah bisnis republik ini banyak sekali berinteraksi
dengan para pedagang. Akibatnya, mind set yang terbentuk sejauh ini sangat
dominan diwarnai oleh mental pedagang. Hanya berani mengambil keputusan, bila
untungnya sudah kelihatan di pelupuk mata. Investasi, apa lagi di sektor yang tak
jelas seperti sumber daya manusia, adalah sebuah kata yang terlalu muluk bagi
kaum pedagang.

Konflik internal - yang menempatkan perusahaan sebagai sapi perah - dan mental
pedagang tadi kemudian berinteraksi dengan lingkungan bisnis yang hanya memberi
reward pada mereka yang adaptif dan inovatif. Sebagaimana kita pelajari dari
industri komputer, tiada hari tanpa penemuan baru di sektor hard ware dan soft ware.
Ini terjadi bukan karena pemain-pemain di sektor ini sombong-sombongan, namun
karena konsumen melalui mekanisme pasar, hanya memberi ruang hidup pada
mereka yang bisa melakukan inovasi.

Oleh karena tidak ada pasar yang mau berbelas kasihan terhadap mereka yang tidak
inovatif, maka dibiarkan saja tukang perah sapi yang bermental pedagang tadi
bergelimpangan tanpa diselamatkan oleh siapapun. Ini yang bisa menjelaskan
kenapa kita kelangkaan perusahaan yang langgeng sampai generasi kedua dan
seterusnya. Kenapa bayang-bayang pengusaha banteng mulai tak kelihatan. Kenapa
bank-bank pemerintah ditinggalkan bank-bank swasta. Kenapa di sektor-sektor
pembentuk masa depan seperti teknologi informasi kita hanya menjadi kacung dari
kekuatan-kekuatan asing. Kenapa kita merasa kecolongan setelah tahu hanya
menjadi tukang jahit.

Bagi saya, ada perbedaan mendasar antara pengusaha dengan pedagang cendol di
pinggir jalan. Pedagang cendol, sebagaimana kita tahu, membeli bahan hari ini,
dimasak hari ini, memperoleh untung hari ini, dan dimakan hari ini. Hidup dalam
pengertian mereka hanya sepanjang matahari hari ini. Bila pedagang cendol memiliki
pola bisnis seperti itu, dan kemudian mudah lenyap ditiup angin persaingan, daya
radiasinya hanya sebatas keluarga mereka dan segelintir konsumen yang merasa
kehilangan sebentar, dan kemudian lupa oleh luasnya alternatif belanja di pasar
modern.

Akan tetapi, bila pengusaha-pengusaha yang menjadi pilar-pilar perekonomian
bermental seperti itu, saya khawatir kita sebagai bangsa sedang berada di ambang
kebangkrutan.

Lebih-lebih bila hal terakhir ini dikaitkan dengan tuntutan-tuntutan ke depan. Kita
dituntut lebih dari sekadar inovatif. Kemajuan dunia bisnis mempersyaratkan
pimpinan-pimpinan puncak yang bisa membuat arsitektur sosial, yang
memungkinkan kekayaan intelektual yang paling bernilai dalam bentuk kreativitas
manusia, dihargai dan terkelola secara baik. Dan, hal terakhir ini memerlukan
pengusaha-pengusaha yang hidupnya tidak sependek pedagang cendol di pinggir
jalan.

Namun, suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju, kita masih kelangkaan mahluk
yang bernama pengusaha. Lihat saja, setiap kali ada masalah di banyak industri, hal
pertama yang dilakukan adalah meminta perlindungan pemerintah. Respon pertama
dari pasar perbankan yang membengkak akibat pakto adalah pembajakan manajer
di mana-mana. Tidak sedikit pengusaha yang mengeluarkan biaya promosi ratusan
juta perharinya, sangat pelit diajak melatih karyawannya.

Coba bandingkan antara biaya promosi yang berakibat langsung terhadap penjualan
dengan investasi di sektor pengembangan dan sumber daya manusia. Bila hasilnya
sangat timpang, saya khawatir kita bukannya komuniti pengusaha yang bisa
diandalkan sebagai pilar-pilar perekonomian. Melainkan, sebuah masyarakat
pedagang cendol, yang lebih dari cukup untuk digunakan modal guna membuat
bangsa ini bangkrut suatu saat kelak.
Gede Prama

Artikel Terkait



Tidak ada komentar:

Posting Komentar