13 Feb 2019

MEMBANGUN DESA, MEMBANGUN JAWA BARAT SEJAHTERA


Oleh: A. Saebani, KSK dan Statistisi di BPS Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.

Dana Desa yang telah dikucurkan pemerintah dari tahun 2015 Rp 20,7 triliun, 2016 Rp 46,98 triliun, 2017 Rp 60 triliun, 2018 Rp 60 triliun, dan tahun depan di 2019 Rp 70 triliun (Kemenkeu). Dengan program tersebut, berharap agar Dana Desa dapat berputar di perdesaan dan dimanfaatkan dalam pembangunan secara maksimal untuk kesejahteraan penduduk desa yang semakin meningkat.

KEBIJAKAN FISKAL & MONETER TERHADAP DEFISIT NERACA PERDAGANGAN


Oleh : A. SAEBANI, SSi

KSK & Statistisi Ahli Pertama di BPS Kabupaten Cianjur

                          
      
Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat selain akibat faktor eksternal seperti masih berlanjutnya perang dagang Amerika Serikat dengan China. Kebijakan Bank Sentral (The Fed Reserve) Amerika Serikat menaikkan suku bunga acuan mengakibatkan para pemegang dolar AS banyak mengalihkan depositonya dalam negeri  ke luar negeri. Selain itu harus diperhatikan faktor fundamental makro ekonomi Indonesia. Salah satunya adalah defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/ CAD) harus pada level yang aman. Bagaimana strategi pemerintah dalam menekan difisit neraca berjalan dan mengembalikan kepercayaan terhadap rupiah?

INOVASI DALAM MENGURANGI PENGANGGURAN


Oleh: A. Saebani, SSi 
KSK & Statistisi di BPS Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat
Fenomena pengangguran akan selalu ada jika penawaran tenaga kerja lebih tinggi dibandingkan pasar tenaga kerja yang tersedia. BPS mencatat, pada Agustus 2018 angka pengangguran terbuka sebesar 5,34 persen atau sekitar 7 juta orang masih menganggur. Yang menjadi “PR” pemerintah justru pendidikan vokasi menengah sebagai penyumbang tertinggi menjadi penganggur. Apakah yang menjadi inti permasalahan, kesalahan kurikulum atau kurangnya pasar tenaga kerja untuk tingkat terampil. Bagaimana pun pertumbuhan ekonomi yang berkualitas sangat menentukan penciptaan lapangan kerja.

INFLASI MENJELANG IDUL ADHA


A. Saebani
KSK & Statistisi Ahli Pertama di Badan Pusat Statistik Kabupaten Cianjur.
    
   Bagi orang dari kalangan menengah ke atas, naiknya kebutuhan pokok bukan merupakan masalah, karena masih tebalnya cadangan keuangan di dompetnya. Akan tetapi untuk sebagian besar ibu-ibu dengan uang belanja tetap akan menjadi problema. Ditengah banyaknya biaya untuk kebutuhan pendidikan anak-anaknya yang masuk sekolah. Kebutuhan pokok pun ikutan naik, seperti naiknya harga telor, daging ayam ras serta berbagai macam sayuran  membuat kondisi semakin terjepit.

DEPRESIASI RUPIAH MENGURAS DEVISA


Oleh: A. Saebani
KSK & Statistisi Ahli Pertama di BPS Kabupaten Cianjur
Gejolak ekonomi dunia rupanya memberikan andil terhadap kecemasan pelaku ekonomi juga stabilitas perekonomian Indonesia. Perang dagang Amerika Serikat dengan Tiongkok, rontoknya perekonomian Turki dan Argentina merupakan salah satu pemicu eksternal melemahnya nilai tukar Rupiah (terdepresiasi) terhadap mata uang Dolar Amerika Serikat (USD). Semakin merosat nilai tukar rupiah banyak mempengaruhi cadangan devisa yang semakin menipis, sehingga negara butuh dolar banyak demi stabilisasi Rupiah di pasar keuangan.