3 Des 2014

Bubar Karena Besar



Dulu, ketika saya masih duduk sebagai mahasiswa di fakultas ekonomi, dan sempat
dibombardir oleh ide-ide besar ala banyak ekonom seperti Keynes dan manusia
sejenis, tiba-tiba merasa diinteruspi pikirannya oleh E.F Schumacher melalui
karyanya yang berjudul "Kecil Itu Indah". Anda bayangkan, pikiran yang biasa diajak
untuk mempermainkan variable-variabel yang ditujukan untuk memperbaiki hal-hal
besar, tiba-tiba dibelokkan secara mendadak untuk mencermati sekumpulan hal
yang relatif "kecil".

26 Nov 2014

Biarkan Kedamaian Bicara



Dalam jangka waktu yang amat lama, wacana publik kita ditandai oleh kekerasan
yang memperkuda kedamaian. Tidak hanya setelah republik ini merdeka, jauh
sebelumnyapun sejarah kita sudah ditandai oleh wajah-wajah kekerasan di sana-sini.

6 Nov 2014

Mumpung Masih Diberi Waktu

Setiap mengakhiri sebuah tahun, semua orang dihadang oleh sebuah kenyataan
betapa cepatnya sang waktu berputar dan berlalu. Dan secara tiba-tiba, baru sadar
ketika ada sahabat atau kerabat yang dipanggil kematian. Di situ kita baru merenung,
kita masih diberi sisa waktu.

12 Okt 2014

BI : Bantu Istri



Salah seorang mantan direktur BI yang pernah sama-sama menjadi pembicara di
seminar yang diadakan Infobank, pernah mengejutkan saya. Pasalnya, beliau
mencantumkan jumlah isterinya ada dua dalam daftar riwayat hidup yang dibacakan
moderator, dan dibenarkan oleh yang bersangkutan di depan umum. Kontan saja
saya yang ada di sebelahnya, sejumlah wartawan yang hadir serta hadirin lainnya
bertanya penuh keheranan. 'Bagaimana mungkin seorang mantan pejabat teras BI
berani memiliki dua istri?', demikianlah kira-kira pertanyaan yang mengganjal di
kepala.

8 Okt 2014

Kota Keheningan Dan Kedamaian



Agak berbeda dengan sejumlah orang yang marah kalau profesinya dijadikan
sumber tawa, saya kerap belajar banyak dari tawa dan canda. Karena ia kaya
inspirasi dan imajinasi. Di sebuah bar yang lagi sepi pengunjung, tiba-tiba saja ada
seorang laki-laki parlente memasuki bar sambil memesan minum. Heran dengan
penampilan pria yang amat parlente ini, penjaga bar bertanya tentang profesi dan
pekerjaan orang terakhir. Dengan mantap laki-laki dandy ini menyebut profesi
konsultan. Tentu saja penjaga bar mengerutkan alisnya sebagai tanda tidak tahu.
Maka bertanyalah ia : ‘Konsultan, mahluk apa itu ?’.